Laman

Jumat, 25 November 2011

aku adalah introvet dan aku mati

hiruk pikuk gang kecil dikampungku sudah dimulai kembali, aku tak suka. aku adalah tipikal manusia yang membenci keramaian, entahlah... bagian diriku bermusuhan dengan keramaian, toh walaupun ramai aku masih terkungkung dalam sepi. orang-orang dikampungku menilai diriku sebagai seorang psikopat, ayolah!!! tidakkah itu terlalu sadis?! aku memang pendiam, tapi aku bukan pembunuh. biarkan saja manusia-manusia itu bergelut dengan fikiran mereka, walau bagaimanapun aku tak punya hak mengubah pandangan mereka, sama seperti mereka tak berhak memaksaku menjadi manusia yang pandai berkicau dan menjilat...

aku sudah terbiasa dengan pandangan aneh sekitarku, aku tak terganggangu, memang kuakui beberapa kali sempat ku terjebak oleh pertanyaanku sendiri, "berdosakah aku menjadi seorang introvet???", pertanyaan itu belum mampu terjawab,.pada akhirnya pertanyaan itu kubiarkan terbengkalai dalam imajiku. aku tak bergairah mempertanyakan, atau menghujat seperti para manusia yang sibuk berdemo walaupun mereka sendiri tak tahu kenapa mereka berada dikerumunan yang sibuk berteriak-teriak dengan memakai ikat di kepalanya bertuliskan macam-macam.

kumulai bergelut dengan imajinasiku dengan mencoret-coret buku hitam kumal yang selalu kubawa, buku kumal ini laksana bibirku. dalam keadaan nyata aku tak sanggup berkata-kata, menyusun rangkaian kata yang indah, berbeda saat aku hidup dalam goretan tinta di buku hitam kumalku. aku seakan manusia dangan seribu mulut. tak henti-hentinya aku berbicara, apapun itu. orang bilang, aku adalah seorang pengamat sinis dengan perilaku aneh. aku ingin membantah, namun aku terlalu malas berdebat dengan kerumunan orang yang beranggapan mereka adalah ras sempurna. kubiarkan saja mereka berlalu, toh saat nafas mereka habis digunakan untuk mencomoohku, mulut mereka akan diam dengan sendirinya, lalu kenapa harus kubuat pusing, buang-buang tenaga.


aku tak berani bermimpi menjadi besar, aku ingin bermain aman saja selama hidup. aku tak mau repot, kubiarkan saja semuanya mengalir, disakiti atau menyakiti hanya dibatasi oleh batas semu, jadi aku tak mau berharap tinggi, seperti layaknya manusia yang manusia, jatuh cinta, beranak dan mati. aku lebih suka mengikuti arus, hingga tiba masa dimana aku terjatuh dan sekarat, masih tanpa pendamping. sendiri dan sepi,aku tak ingat jelas apa yang terjadi, yang kulihat hanya ruangan kecil dan bunyi alat yang mengganggu. ingin bertanya hanya saja aku tak mampu berkata. sudahlah, toh aku telah terbiasa diam. di ruang kecil itu masih dengan bunyi alat yang menggangu, beberapa orang berpakain hijau masker diwajahnya dan tutup kepala sewarna dengan pakainnya mengingatkanku pada sebuah film yang pernah kutonton berkisah tentang sebuah pekerjaan di rumah sakit bidang perawatan khusus, bila ku tak salah mengingat, ICU namanya. mereka berbincang antara sesamanya, yang lebih muda sepertinya adalah orang baru, dari perbincangan mereka aku baru mengetahui bahwa aku telah berada diruangan ini hampir 3 bulan lamanya, dari mereka juga aku tahu bagaimana aku berada dirungan ini. mereka bilang aku dijatuhi tembok yang runtuh, aku mencoba mengingat, bagaimana bisa itu terjadi. yang kuingat terakhir kali aku menulis buku hitam lusuhku di sebuah ruangan lapuk yang dihindari manusia lainnya, dan selanjutnya aku tak tahu bagaimana aku disini.

beberapa menit sekanjutnya, seorang yang nampak lebih tua menghampiriku, sepertinya orang ini lebih dihormati, orang-orang sebelumnya nampak memberi salam kepadanya dengan menundukkan kepala, aku tak mampu melihat dengan jelas, hanya nampak samar-samar. kemudian kulihat orang tadi menyorot mataku dengan sinar senter, nampaknya. detik-detik selanjutnya orang tadi berkata "sepertinya sudah MBO" dan aku ditinggalkan. lalu orang-orang sebelumnya yang datang lebih dahulu berbicara sesamanya
"MBO itu apa mbak?"
"MBO itu mati batang otak, istilahnya yah mati, sudah tidak mungkin selamat"
dari pembicaraan mereka, aku masih bisa bernafas karena alat yang menggantikanku bernafas. aku baru mengerti alat dengan bunyi mengganggu itu membantuku untuk bernafas, lalu bila aku mati kenapa aku masih bisa merasakan sensasi ini??? bahkan saat aku akan pergi meninggalkan dunia ini, Tuhan masih memberikanku teka teki tak terjawabkan,,, ahhhhhh biarlah saja... toh aku akan berteman dengan cacing-cacing dan belatung, pelan-pelan mereka akan menghabiskan sisa-sisa ragawiku. tak ada yang bisa kuwariskan didunia ini, kecuali buku hitam lusuhku.


                                                                               bangkalan,
                                                                               taufiq putra

1 komentar:

  1. waw. 'aku memang pendiam tapi aku bukan pembunuh'. bagus... teruskan. alangkah lebih bagus kalo di-explore spaya panjang. heu

    BalasHapus